Kampus, Wisuda, dan Sarjana

pakbustam

Bustamin Wahid
Dosen FISIP UM-Sorong
Sekjen The Papua Institute


Pendidikan itu mempertajam kecerdasan,
Memperkuat kemauan serta memperhalus perasaan
(Datuk Ibrahim)


Kampus, wisuda dan sarjana persis memiliki kekuatan ontologisme  yang sangat kuat dan memiliki argumentasi rasional, Tak bisa kita pungkiri untuk melewati episode itu membutuhkan kekuatan rasional dan metarasional (doa dan keyakinan tinggi). Menjadi penting ketika narasi doxa ini bisa di pertegaskan dengan konsep tanpa menghukumi pandangan lain.

Kampus tempat manusia mendesain proyek peradaban kemanusiaan, tempat rutinitas akademik, tempat pertapaan intelektual, kerajaan pemikiran, dan tempat orang melepaskan diri dari pakem kebodohon. Melepaskan diri dari pakem kebodohan, berarti memiliki makna perubahan atau yang dimaknai oleh Thomas Khun adalah normal sains.  Penulis mengutip pendapat  Basri Amin, kampus adalah akumulasi perspektif dan akal sehat dalam merumuskan sebuah peradaban.  Kampus yang mendesain peradaban kemanusian dengan menghasilkan sarjana yang berkualitas dan berdaya saing, momentum wisuda itu menjadi simbol yang menegasakan tentang kesarjanaan. Karakter ilmiah yang dibangun dengan kesiapan perpustakaan, karena perpustakaan adalah jantungnya kampus.

 

Simbol  Keadaban

Kita tau bahwa momentum wisuda tentu dengan menggunakan jubah hitam dan toga berpersegi.  Juba hitam identik dengan atribut sakral penuh duka, sedangkan toga yang dalam etimologi latin memiliki arti penutup, dan simbol persegi itu menegaskan bahwa tidak ada sikap individualistik dan mengedepankan wawasan. Sedangkan simbol pemindahan tali toga itu sendiri lebih kepada pergeseran paradigma berfikir dari seorang mahasiswa ke seorang sarjana, ada filosofi lain tentang pemindahan tali toga itu sendiri adalah pita pembatas buku. Makna praktisnya adalah sosok seorang sarjana itu harus bertanggungjawab untuk mempertahankan kesarjanaannya, dengan lebih banyak membaca, menulis dan menciptakan inovasi, kreatifitas, dan diharapkan sebagai pewaris pemimpin masa depan.

Perlu ditegaskan, pilihan warna hitam menjadi sangat sakral, mistik, misterius dan kedalaman ilmu. Mereka mendorong perubahan yang sudah dijanjikan  mereka (sarjana) pada saat mahasiswa,   Pandangan seorang sarjana itu sangat dibutuhkan di masyarakat karena mereka kembali dengan membawa kemampuan dan keahlian dalam bidangnya, dan ikhtiar menjaga kemampuan dengan lebih jauh menciptakan karya-karya dan inovasi baru. Hukum sosial sudah memenjara kesadaran masyarakat, bahwa seorang sarjana adalah pasti memiliki kemampuan lebih dan bisa berbuat banyak hal dengan kekuatan alam pikirannya. Kekuatan akal sehat, inovasi, kreatifitas, idiologis dan menggerakkan itulah yang membuat mereka siap dengan diskursus sosial/realitas sosial yang terus berdinamis. Sarjana adalah orang yang memiliki pengetahuan, idiologi dan keyakinan tinggi itu semua didapat dari akumulasi proses panjang selama bertahun-tahun. Diskusi, debat, sarasehan, simposium, dialog menjadi bagian dari pada rutinitas kolokium di kampus,

Benturan, diskursif pemikiran pun dihidupkan dikampus. Dengan misi besar untuk membangun kaum intelektual (SDM), dan menjadi simbol keadaban, kampus konsisten untuk membina manusia baik dari aspek pemikiran dan spiritualitas. Konten ini jika kita tilik dari perspektif M. Foucoul, bagian kekuasaan dan dinasti pemikiran dalam institusi yang mencoba mendorong publik kepada fase dan faksi pencerahan. Dan memiliki ruang dan relasi pada institusi-institusi sosial.

Tridarma yang selalu digemborkan dan diwujudkan dalam laku nyata untuk seluruh perguruan tinggi memliki tiga hal penting, pembelajaran, penelitian dan pengabdian. Dentuman dan akumulasi pemikiran ini terjadi peristiwa perjumpaan pemikiran dan pandangan teologis dalam rutinitas kampus. Kampus yang membina begitu banyak mahasiswa/i dengan perbedaan identitas yang luar biasa, tetapi bisa menyatukan dan terintegrasi dengan suatu kekuatan intelektual. Ragam dan corak identitas tidak menjadi alasan perlawanan, musuh tetapi perbedaan  identitas menjadi warna dan ragam dalam pemersatu. Itulah yang dimaknai oleh penulis sebagai; “rutinitas peradaban dan desain kemanusiaan”.

Bahagia perubahan

Hari ini, sabtu 19 maret 2016 kelangsungan sidang senat terbuka atau rutinitas wisuda di Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS). Kampus tercinta masyarakat papua, dengan begitu banyak prestasi dan memiliki keterikatan relasi sosial dengan alumni yang begitu banyak. Hari ini aktifitas dan gerak gerik semua didominasi dengan menggunakan juba, toga dan proses pengambilan sumpah akan berlangsung dipimpin oleh rektor selaku ketua senat. Kesakralan penuh duka, peserta wisuda berasal dari berbagai jurusan, kehadiran mereka di dampingi oleh orang tua, istri, sanak keluarga dan bahkan hanya di dampingi oleh seorang kakak/adik.

Cucuran air mata dan senyum bahagia terjadi dikampus. Tangis dan senyum menjadi simbol puncak dari perjuangan, ini adalah perubahan yang luar biasa dan sarjana akan diembankan dan diamanahi. Ketika predikat sarjana ini sudah menjadi sah, maka mereka akan di catat sebagai alumnus. Tetapi dengan bahagia, perubahan itu telah mengikat kalian (sarjana) dengan institusi atau almamater, ingatan kalian harus menjunjung tinggi almamater. almamater (ibu susuan, dewi ibu, perawan maria ) merupakan ibu yang memberi, mengasuh dan membesarkan. Jadi para sarjana berpegang teguh terhadap solidaritas (asabiah), dengan tetapi menjaga nama baik almamater. Sesungguhnya kampus adalah alarm besar yang selalu mengingatkan mahasiswa/I memabaca, diskusi dan menulis, karena membaca membuat kita berisi, diskusi membuat kita siap dan menulis mengikat ilmu pengetahuan. Ingat kita bukan hanya berdikusi tetapi bertindak itu jauh lebih baik, karena bahasa yang baik adalah tindakan.