UM-Sorong Menyambut Intelektual Muda

pak bustamBustamin Wahid
Dosen FISIP UM-Sorong
Sekjen The Papua Institute


RUTINITAS pendidikan dalam setiap tahun disibukkan dengan penerimaan mahasiswa baru diseluruh perguruan tinggi baik PTN dan PTS, penulis merasa penting untuk mengucapkan selamat datang untuk calon intelektual muda di kampus pencerahan Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS), pergeseran, transisi dari fase pelajar ke fase mahasiswa sebagai gambaran suatu pergeseran  menunjukkan simbolisasi pergesaran paradigma berfikir. Dimana saja kampus punya cerita termasuk UM-Sorong yang begitu banyak melahirkan alumni melalui pencerahan akademik, kematangan organisasi sangat membantu para alumnus untuk berkompetisi di dunia kerja dengan produk kampus lain. Mahasisiwa baru akan diperhadapkan dengan dunia dan ruang intelektual dengan berbagai kajian dengan dasar sumber epistimologis yang berbeda-beda, tradisi ospek/orientasi kampus yang bisa dilakukan yang dulunya di identikan dengan kekerasan dan ajang balas dendam, tetapi kini telah sirna dan selalu mengedepankan tradisi ilmiah rasional dengan pembobotan kepada kematangan berfikir. Hal itu yang selalu dirutinkan oleh Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS).

UM-Sorong adalah salah satu kampus pelopor peradaban manusia atau dalam pandangan penulis adalah kampus yang menjadi titik simpul peradaban di tanah Papua dan berbuat untuk keadaban ke-Indonesia-an. Sebelum melangkah lebih jauh penulis mengutip pendapat Basri Amin, bahwa kampus adalah akumulasi perspektif dan akal sehat dalam merumuskan sebuah peradaban. Menjadi relevan jika dalam kajian ini kita mencoba mengulas posisi dan pentingnya intelektual, gerakan intelektual bukan sekedar definisi atau rangkaian kata indah, tetapi memiliki makna baik itu secara ideologi, pengetahuan dan keyakinan. Jika runut secara konsep penulis bisa meminjam telorannya Sertillanges (baca: Basri Amin).

Dalam karya klasiknya, The intellectual life; its spirit, condition, dunia intelektual bisa dilihat dari apa-apa yang dikerjakan oleh mereka yang dikategorikan intelektual itu. Kesimpulan Sertillanges, bahwa intelektual itu adalah pekerjaan yang sunyi kebiasaan mengumpulkan sesuatu tanpa henti; keinginan besar menolak dan menjauhkan dari hal-hal yang materialistic; keinginan besar memisah-misahkan sesuatu tanpa emosi yang menyala-nyala dalam mengenal banyak hal; mensyaratkan kepekaan dan jiwa yang tidak mudah menyerah karena tarikan hasrat-hasrat egoistic dan keinginan diri; intelektual adalah turunan dunia ide, dunia kreatif dan sebagai pekerjaan dalam “keabadian penciptaan”.

Pertarungan eksistensi sebagai wujud ada dan menjadi dalam pandangan Ali Syariati, terus diuji demi kualitas sebuah identitas dan institusi.  Kampus yang bertahan dan menunjukan kualitas sebagai salah satu kampus swasta tertua di tanah Papua dan terus bermetamorfosa untuk menemukan eksistensi sejatinya. Benturan, diskursif pemikiran pun dihidupkan dikampus ini. Dengan misi besar untuk membangun Human Resources (SDM) dan menjadi simbol keadaban, perspektif kampus menjadi salah satu rahim dan konsisten untuk membina manusia baik dari aspek pemikiran dan spiritualitas. Ini tidak bisa terlepas dari tujuan besar kampus bersimbol Muhammadiyah, tiada simbol tanpa makna, semua simbol akan selalu bermesraan dengan makna yang telah dirumuskan. Tak hanya sebatas melahirkan skeptisisme yang tak bertepi dan tak berhujung dan kerajaan ide semata tetapi ini bagian dari pada praksis membumi. Konten ini jika kita tilik dari perspektif M. Foucoult, bagian kekuasaan dan dinasti pemikiran dalam institusi yang mencoba mendorong publik kepada fase dan faksi pencerahan.

Tridarma yang selalu digemborkan dan diwujudkan dalam laku nyata untuk seluruh perguruan tinggi, kampus Muhammadiyah lebih dari itu dengan akumulasi pemikiran menghasilkan caturdarma dengan penambahan nilai-nilai spiritualitas sebagai penyempurna nilai pembelajaran, penelitian dan pengabdian. Kampus yang membina begitu banyak mahasiswa/i dengan perbedaan identitas yang luar biasa, tetapi bisa menyatukan dan terintegrasi dengan suatu kekuatan intelektual. Ragam dan corak identitas tidak menjadi alasan perlawanan, musuh tetapi perbedaan identitas menjadi warna dan ragam dalam pemersatu.

 

Merumuskan raksasa intelektual “sebuah spirit”.

Mahasiswa disimbolisasikan sebagai masyarakat intelektual, yang dalam pengetahuan memiliki kemampuan dan profesionalisme dengan pengakuan akademik yang dimiliki. Kesadaran besar pasti disadarkan dengan tanggung jawab seorang mahasiswa yang dalam pendapat penulis : Pertama, mahasiswa sebagai actor perubahan; Kedua; mahasiswa sebagai pembentuk moral kemanusiaan; Ketiga, mahasiswa sebagai pembangkit peradaban; Keempat, mahasiswa adalah idiologisasi kesadaran kolektif. Tanggung jawab besar  seorang mahasiswa ini seiring dengan pola pikir yang didasari dengan kemerdekaan berfikir untuk menghasilkan konklusi baru, institusi yang dengan gigih melahirkan generasi yang tidak bermental domba (mental budak).           Nada dan lantunan diskusi paradigma ini sering kali didengungkan pada saat diskusi-diskusi lepas dan mengidiologis dilingkungan kampus (UM-Sorong), Pendapat Dr. M. Ridha dalam kajian revolusi paradigma tentu akan menemukan dimensi, dimensi adalah bagian dari model untuk menjelaskan pembaharuan ilmu pengetahuan.  Kode dialektika ini tak akan berhenti, pembobotan dan kemanjaan kajian pengetahuan pemikir-pemikir islam, kewibawaan mimbar jumat, penulis tertarik dengan khotbah Dr. Muhammad Ali (Warek I UM-Sorong), yang disatu kesempatan menyinggung tentang konsep manusia insani dan substansi haji dalam perspektif Ali Syariati. Elaborasi keilmuan diruang publik sakral (masjid) adalah menjadi hal yang penting dalam menawarkan lokus spritualitas sebagai bentuk dari antitesa baru dalam menggugat  perspektif cartesian dan newtonian.

Melahirkan sosok mahasiswa baru (intelektual baru), memiliki banyak kajian filosofis. Yang tentu akan diadakan pada ruang-ruang ilmiah/rutinitas yang sebagai berikut:  Pertama : kemerdekaan berfikir, publik civitas academika  diberikan ruang dan kesempatan untuk mengelaborasi dan menafsirkan realitas dengan instrument pengetahuan baik itu  dari kajian, diskusi, dan hasil silogisme ilmiah; Kedua, kebebasan akademik, Lokus ini menjadi penting berkaitan dengan keleluasaan mahasiswa untuk mengejar dan melacak eksistensi dari etos akademik, melahirkan aliran dan faksi pemikiran yang tak keluar dari nilai-nilai keilahian (transtendensi). Dua tawaran ini kemudian dicangkang dengan prinsip-prinsip caturdarma (pembelajaran, penelitian, pengabdian dan spiritual); Ketiga, akses organiasi sebagai bentuk pengkaderan dan perjuangan yang hidup dan setia mengolah potensi mahasiswa, baik itu kelompok  HMI, IMM, KAMMI, PMII, GMKI, GMNI, PMKRI, dll yang terlibat dalam lingkaran kelompok cipayung merupakan bagian dari dialektika membangun peradaban di kampus Univeristas Muhammadiyah Sorong (UMS).

Kampus  (UM-Sorong) yang berkedudukan di negeri yang kaya akan minyak, memiliki nilai (value) tersendiri, agenda-agenda internasional, nasional dan regional selalu dipercayakan untuk menjadi motor penggerak atau dalam bahasa penulis kehendak atas kuasa (will of power). Kampus ini menerbitkan fajar baru kemanusiaan dan kebersamaan, langkah dan gerakan untuk mempersiapkan manusia-manusia unggul terutama menghadapi tantangan zaman dan kesadaran global, yang terus merasuki seluruh dunia. Kesadaran global atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan mengalami dentuman besar menuju dunia baru, pertarungan kualitas, kemampuan, finansial, network akan terjadi.  Tiga item penting yang ditawarkan oleh komponen Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pertama: aspek sosial budaya, Kedua: aspek ekonomi, Ketiga: keamanan.  UM-Sorong sebagai institusi pencerahan harus siap dalam menyiapkan generasi-generasi unggul dan petarung “raksasa intelektual”. UM-Sorong selalu siap mengamalkan kalimat, “setiap permulaan dalam pemikiran adalah diakhiri dalam perbuatan”. inilah kultur kami membangun peradaban.[*]