Muh. Ridha Suaib, Dekan dan Abang

MUH. RIDHA SUAIB, DEKAN & ABANG
(Ingatan Ideologis, Professional dan Guyuban)

Oleh:
Bustamin Wahid


Pagi 04.30 24.30 perjalanan Batavia-Sorong menjadi catatan. Batavia menjadi penting untuk mengisi agenda literasi, diselah waktu yang sangat sibuk harus berbagi agenda dengan kawan-kawan di Ibu kota. Nalar ini memberontak untuk menuangkan perasaan dan ingata ini dalam menggelora jari temali dalam narasi. Betapa penting menggambarkan sosok atau pribadi seseorang, kultur ini bukan sekedar kita bicara ansi curiculum vitae (CV) tetapi paling, narasi ini bagian dari membaca konteks sejarah mentalitas (laku, etik, populis dan intelektualnya) atau sisi yang lain kita bisa tafsir sebagai rekonstruksi filsafat sejarah.
Simbolisasi tema ini, betapa penting untuk memaknai dan memposisikan ini dalam paradigma habili-an yang di tafsir oleh Ali Syariati. Simpul kekuatan ini bukan bagian dari logosentrisme (kesadaran) absolut, tak ada tanda tanpa makna tetapi sesungguhnya sebuah tanda dan kode memiliki makna. MR, DEKAN, ABANG terpadu penamaan ini dalam tafsir penulis sebagai simbolisasi: Pertama: MR pribadi/idividu atau lafas ini mengatakan sebagai gambaran sosok insani. Sosok ini di dalam desain pikiran Ali Syariati sosok manusia itu adalah manusia yang selalu berfikir progres, kritis, idiologis dan dimensi manusia ulil albab. Kedua, simbolisasi DEKAN persisi bahwa ini adalah amanat sebagai khalifa bumi kepada sosok manusia untuk mewarisi tradisi akaliah dan kemanusiaannya, hal ini tidak mudah karena fase ini adalah episode panjang dalam karir akademi dan dihiasi prestise. Posisi ini tidak mudah, kita harus membutuhkan integritas dan institusi yang terhormat dalam hegemoni pemikiran manusia, generasi dan umat. Ketiga, ABANG istilah merupakan sebuatan sakral dan senioritas dalam hubungan ideologis, DNA pengkaderan dalam sebuah organisasi. Sebutan ini bagian dari pada simpul-simpul sosial dan menjadi kekuatan arus dalam mengisi agenda perubahan, banyak peristiwa di Negeri ini yang melejitimit narasi ABANG, kita paham dan mengerti itu bagain dari pada model diplomasi kebangsaan atau dalam mengisi kepentingan.
Kolaborasi simbol ini sempurna, tetapi ini tidak absolut kebenaran jika ditafsir dalam pandangan lain. Kita menghormati wilayah dan pergeseran paradigma pengetahuan yang dimiliki sebagai mana dikatakan Thomas Khun. Radikalisasi MR, DEKAN, ABANG selalu berada pada posisinya dan tidak kaku dan terbuka, kemesraan tiga posisi, tidak menghilangkan nilai kritis dan rasional dalam komunikasi kadang kita di posisi kesadaran langit dan kadang kita berada pada kesadaran bumi dalam kajian, dikusi atau sering kita mendengarkan ngaji-ngaji pemikiran yang sosok/pribadi sampaikan. Simpul dan kode ini menjadi TRISULA KEBAIKAN dan keumatan yang dilabelkan dan melekat pada pribadi Doktor Muahammad Ridha Suaib.
Kultur ini tidak bagai dari pada pencitraan semata tetapi ini adalah bagai cita-cita dan perjuangand besar dan panjang yang kasi tercecer yang harus disatukan dengan sapaang yang wibawa dan terhormat. Sosok pria berkulita putih kekuningan ini penuh syarat dan gambaran mewarisi keadaban bangsa kulit kuning, sosok lelaki gagah dan bertubuh kecil, pendek berkarakter ini teringat penulis dengan bahasa Prof Nelson Pomalingo kita boleh kecil tetapi kita tidak boleh berotak kecil dan berfikir kecil.
Simbolisasi ini bukan sekedar eforia, tetapi ini bagian dari pada kode naratif dan gambaran sosok MR sebagai perwujudan akal idela Tuhan terhadap penciptaannya. perwujuduan akala idela ini budak sekedar rutinitas sebagai sang pencipta dan mahakuasaan yang dimiliki, namun ini jauh dari cita-cita. Pengakuan dan pembuktian eksistensi sebagai makhluk ideal dengan berbagai pertimbangan rasionalitas dengan keunggulan akal sehat, penulis menyebutkan Mohammad Ridha Suaib adalah salah satu tokoh yang menegaskan pemurnian epistemik dan selalu membanguan budaya kritis antar sesama dan berada pada posisi keseimbangan simbolisasi idividu/pribadi, profesionalisme dan tras idiologi.